Sepasang tangan terketar-ketar di depan ku
Tangan itulah yang pernah membelai ku
Menidurkan ku, menyuapkan makan ku
Saat aku dipenuhi najis
Namun aku tetap dikucup tanpa sinis
Dengan patah kata yang selalu ditapis
Saat ku terkedu terdiam tidak terkata
Diri mu menjadi lisan ku untuk menyapa
Dibisik ke telinga ‘tiada apa-apa’
Saat aku sukses ke puncak kejayaan
Mengalir deras air mata yang di balik
senyuman
Kerana jasa memikul beg sekolah yang berat
kini terasa ringan
Bertambah sudah uban di kepala mu kini
Masih terketar bak usaha si petani
Hanya engkau yang dikasihi, Maharani
No comments:
Post a Comment